Mengutip pemberitaan dari situs resmi Institut Ummul Quro Al Islami, kampus tersebut menggelar workshop bertajuk The Art of Storytelling sebagai upaya meningkatkan literasi dan komunikasi sivitas akademika.

Kegiatan ini menghadirkan penulis dan dosen, Aghnia Sofyan, sebagai narasumber utama. Dalam sesi pemaparannya, Aghnia mengisahkan awal ketertarikannya pada dunia kepenulisan yang telah tumbuh sejak masa kanak-kanak melalui kebiasaan membaca buku, khususnya kisah-kisah para nabi. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang hingga mengantarkannya pada dunia novel dan literasi akademik.

Workshop The Art of Storytelling IUQI Bahas Peran Narasi Kreatif, Aghnia menekankan bahwa storytelling memiliki peran penting sebagai media pembelajaran sekaligus sarana penyampaian gagasan. Menurutnya, pesan yang dikemas dalam bentuk cerita cenderung lebih mudah dipahami, berkesan, dan mampu menyentuh sisi emosional audiens. Storytelling tidak hanya berfungsi sebagai susunan kata, tetapi juga sebagai medium penanaman nilai dan makna.

Dalam materinya, Aghnia menjelaskan struktur dasar storytelling yang terdiri atas tiga tahapan, yakni setup sebagai pengenalan situasi dan tokoh, confrontation yang memuat konflik, serta resolution sebagai penyelesaian konflik sekaligus penyampaian pesan utama. Struktur tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari public speaking, penulisan fiksi, hingga pembuatan konten digital.

Workshop berlangsung interaktif dengan adanya sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta menyoroti peran storytelling sebagai alat komunikasi yang mampu memengaruhi cara pandang individu maupun masyarakat luas. Menanggapi hal tersebut, Aghnia menjelaskan bahwa selain menyampaikan pesan, storytelling juga berpotensi membentuk persepsi audiens. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menerima sebuah narasi.

Ia juga menyinggung kemungkinan adanya sudut pandang subjektif dalam storytelling yang dapat mengarahkan cara cerita dipahami. Untuk itu, audiens diimbau melakukan verifikasi informasi agar tidak menerima pesan secara mentah.

Selain membahas storytelling, diskusi turut mengulas persoalan kebuntuan menulis atau writer’s block. Aghnia menyarankan penulis untuk berpegang pada kerangka tulisan atau outline agar proses menulis tetap terarah. Dalam upaya meningkatkan minat baca, ia juga menganjurkan pembaca memilih buku sesuai minat dengan terlebih dahulu membaca ulasan atau resensi.

Topik lain yang dibahas adalah personal branding. Menurut Aghnia, personal branding tidak harus menampilkan seluruh aspek diri, melainkan menonjolkan identitas tertentu secara konsisten dan autentik sesuai dengan niche yang dipilih.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami teknik storytelling, tetapi juga mampu menyampaikan dan menyikapi narasi secara lebih bijak. Storytelling dipandang sebagai salah satu sarana efektif dalam membangun reputasi IUQI Bogor melalui cerita yang jujur, inspiratif, dan bermakna.