Deretan stan buku berwarna-warni mulai memenuhi lingkungan Kampus Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor. Aroma kertas baru dan tumpukan buku dari berbagai genre menjadi pemandangan yang menyambut setiap pengunjung yang datang. Suasana ini menandai digelarnya IUQI Book Fair 2026, sebuah perhelatan literasi yang kembali dihadirkan IUQI sebagai ruang perjumpaan antara pembaca, buku, dan gagasan.

Selama satu pekan, mulai 14 hingga 20 Januari 2026, IUQI Book Fair menghadirkan lebih dari 100.000 judul buku dari berbagai penerbit nasional. Tak hanya mahasiswa, kegiatan ini terbuka untuk pelajar dan masyarakat umum yang ingin berburu buku dengan potongan harga menarik, mulai dari 20% hingga 70 %. Ragam buku yang ditawarkan pun mencakup literatur keislaman, pendidikan, sosial, sastra, hingga buku pengembangan diri.

Lebih dari sekadar pameran dan penjualan buku, IUQI Book Fair juga diramaikan dengan berbagai workshop literasi. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang edukatif yang mendorong diskusi, pertukaran ide, serta penguatan budaya membaca di tengah arus digital yang kian masif.

di kutip dari iuqibogor.ac.id Wakil Rektor III IUQI, Galih Pratama, S.Pd., M.Pd., M.I.Kom., menegaskan bahwa IUQI Book Fair merupakan bagian dari komitmen kampus dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Menurutnya, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, berpikir kritis, dan mengembangkan wawasan.

“IUQI Book Fair tidak hanya sekadar ajang jual beli buku, tetapi menjadi ruang edukatif untuk menumbuhkan minat baca dan budaya literasi, khususnya di kalangan generasi muda,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini selaras dengan nilai-nilai keilmuan dan keislaman yang menjadi fondasi pengembangan Institut Ummul Quro Al-Islami. Melalui akses buku yang luas dan terjangkau, kampus ingin meneguhkan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Apresiasi terhadap kegiatan ini juga datang dari Kepala Bidang Pembinaan SD Kabupaten Bogor, Dra. Susilawati, M.M. Ia menilai IUQI Book Fair sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan menurunnya minat baca anak usia sekolah dasar di era digital.

“Saat ini anak-anak lebih dekat dengan gawai dibandingkan buku. Kegiatan seperti IUQI Book Fair sangat penting untuk menghidupkan kembali minat baca dan memperkenalkan buku sebagai sumber pengetahuan yang menyenangkan,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam gerakan literasi akan memberikan dampak yang luas bagi dunia pendidikan. Kolaborasi antara kampus, penerbit, pendidik, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar literasi tidak berhenti sebagai wacana semata.

IUQI Book Fair 2026 dibuka setiap hari pukul 09.00 hingga 17.30 WIB, dari Senin hingga Minggu, dengan dukungan puluhan penerbit dan mitra literasi nasional. Melalui kegiatan ini, IUQI berharap dapat terus menjadi bagian dari solusi dalam meningkatkan kualitas literasi dan pendidikan, sekaligus menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap buku.